Pengujian Kadar Lumpur Pasir Takari (ASTM C-33-2003)
PRAKTEK PENGUJIAN BAHAN
BANGUNAN
PEMERIKSAAN KADAR LUMPUR PADA PASIR TAKARI
(ASTM C-33-2003)

OLEH
NAMA KELOMPOK
:
1.
TOMMY O.
TAMONOB
2.
REMON A.
NDAO
3.
DON H.
DACOSTA
4.
PETRUS
WAANG
5.
DANSEL I.J.
DAKABESI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Praktek Pengujian Bahan Bangunan merupakan salah satu mata kuliah
yang terdapat pada Jurusan/Prodi Pendidikan Teknik Bangunan, Universitas Nusa
Cendana. Tujuan dari mata kuliah ini adalah agar mahasiswa dapat memahami
jenis-jenis bahan bangunan yang akan dipakai dalam sebuah konstruksi sesuai
dengan kriteria yang berlaku. Oleh karna itu, kami dari kelompok … melakukan
pengujian bahan bangunan dengan judul “Pemeriksaan
Kadar Lumpur Dalam Agregat Halus”. Kami mengambil sampel dari Pasir
Takari. Dalam praktikum ini, kami menentukan presentase kadar lumpur
dalam agrerat halus (Pasir Takari), dengan berpatokan pada American Society for Testing and Material (ASTM) C-33-2003.
B. Maksud
Maksud dari praktikum ini yaitu untuk menentukan persentasi kadar
lumpur dalam agregat halus pada khususnya sampel diambil dari Pasir
Takari.
Kandungan lumpur seharusnya sebesar 3% dari berat agregat halus (ASTM
C-33-2003 ).
C. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar
lumpur yang terdapat dalam agregat halus pada khususnya Pasir Takari. Tujuan
selanjutnya adalah sebagai ajang penambah wawasan bagi kami seorang Building Engineer pada proses belajar
dalam dunia akademik terkhususnya dunia teknik.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMERIKSAAN
KADAR LUMPUR DALAM
AGREGAT HALUS
(PASIR TAKARI)
A. Dasar
Teori
Pasir adalah batuan
berbutir halus yang terdiri atas butiran sebesar 0,15 mm sampai 4,75 mm. Pasir
berasal dari penghancuran batuan baik secara alamiah maupun penghancuran dengan
bantuan manusia.
Pasir merupakan bahan
bangunan yang berfungsi antara lain sebagai bahan campuran adukan beton. Maka
dari itu mutu dari pasir sangat perlu diperhatikan. Sedangkan Lumpur adalah
bagian – bagian butiran yang dapat melewati ayakan 0,063 mm. Kandungan Lumpur
dalam pasir diwajibkan tidak lebih dari 3% dari berat kering pasir.
Dalam prakteknya
dilapangan, khususnya pada agregat halus diketahui bahwa kebersihan agregat
terhadap kadar lumpur melebihi dari syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu
sebesar 3% dari berat agregat halus ( ASTM C-33-2003 ).
Jika dalam agregat
mengandung banyak lumpur akan menambah permukaan agregat sehingga keperluan air
untuk membasahi semua permukaan butiran dalam campuran meningkat. Ini mengakibatkan
kekuatan dan ketahanan dapat menurun. Karena pengaruh buruk tersebut, maka
jumlahnya dalam agregat dibatasi yaitu tidak boleh lebih dari 3% menurut ASTM
C-33-2003.
B. Peralatan
Alat yang digunakan dalam praktikum uji kadar
lumpur ini yaitu:
1.Gelas ukur kapasitas 1000 ml
Berfungsi untuk tempat mencampurkan agregat
halus dengan bahan pelarut yaitu air biasa.
2. Ember kapasitas 5 liter
Berfungsi untuk tempat menyimpan bahan pelarut
yaitu air biasa.
C. Benda Uji
Benda uji yang digunakan adalah :
1. Agregat Halus
2. Air biasa.
D. Prosedur Praktikum
Prosedur praktikum yang dilakukan pada praktikum batas cair yaitu:
- Pertama-tama siapakan benda uji dan peralatan yang akan digunakan;
- Masukan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 400 ml;
- Tambahkan air kedalam gelas ukur hingga mencapai 1060 ml;
- Tutup permukaan gelas dan kocok untuk mencuci pasir dari lumpur;
- Setelah dikocok simpan gelas ukur dan biarkan mengendap selama ±24 jam;
- Setelah ±24 jam ukur tinggi pasir dan lumpur yang ada di gelas ukur tersebut.
E. Laporan
LABORATORIUM PENGUJIAN
BAHAN BANGUNAN
JURUSAN/PRODI
PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
UNDANA
|
||||||
PEMERIKSAAN KADAR
LUMPUR PADA PASIR TAKARI
|
||||||
Keompok :
Tanggal : 10 - 10 - 2018
|
||||||
|
F. Perhitungan
Diketahui
:
Tinggi
Pasir (V1) = 346 ml
Tinggi Lumpur (V2) = 54 ml
Kadar Lumpur (%)
Kadar Lumpur = V2
x 100 %
V1+V2
Kadar Lumpur = 54 x
100 %
346 + 54
= 0,135 %
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum pengujian
dan perhitungan yang
telah kami lakukan bahwa dalam agregat halus dari Pasir Takari yang dilarutkan dalam
gelas ukur berisi air mengandung endapan lumpur dan pasir dengan tinggi pasir
sebesar 346 ml dan tinggi lumpur
sebesar 54 ml sehingga diperoleh
kadar lumpur sebesar 0,135 % sehingga memenuhi
syarat karena kurang dari 3% dari berat agregat halus (ASTM C-33-2003).
B.
Saran
Dari hasil pengujian dan
perhitungan yang telah kami lakukan dalam agregat halus dari Pasir Takari, kami
memperoleh kadar lumpur sebesar 0,135% dalam hal ini memenuhi syarat ASTM
C-33-2003 dimana kadar lumpur harus 3%. Akan tetapi, dari kelompok kami
menyarankan bahwa sebelum pasir takari digunakan, alangkah lebih baiknya dicuci
terlebih dahulu, karna pasir yang baik dan mutunya bagus bila tidak ada kadar
lumpurnya. 0% lebih bagus.
DOKUMENTASI
DAFTAR PUSTAKA
Antonius, Imran, I.,
2012.
Experimental Study of
Confined Low, Medium
and High-Strength Concrete Subjected to Concretric Compression, ITB Journal of Engineering
Science,
Volume 44(3), 252-269.
Antonius, 2014, Performance of High-Strength Concrete by Medium Strength
of Spiral and
Hoops, Asian Journal of Civil Engineering, Vol.15
No.2, 245-258.
ASTM-C33, 2003, Standard Specification for Concrete Aggregates, Annual Books of ASTM
standards, USA.
ASTM-C39-94,
1996,
Test
Methode for Compressive
Strength
of
Cylindrical Concrete
Spesimens, Annual Books
of ASTM standards, USA.
ASTM-C469-02, 2006, Standard Test
Methode for Static Modulus
Elasticity and Poisson`s Ratio
of Concrete in Compression, Annual Books of ASTM
standards, USA.
ASTM-C618-03, 2003, Standard Specification
for Fly Ash and Raw or Calcinated
Natural Pozzolan for Use as a Mineral Admixture in Portland Cement Concret, Annual Books
of ASTM standards, USA.
Badan Standar Nasional, 2013,
Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung, SNI-
03-2847-2013,
Bandung.
CEB-FIP, 1990, Structural Concrete,
Manual Textbook Vol.1, FIB
Davidovits, 1994, Properties of
Geopolymer Cements,
Alkaline Cements and Concrete,
Scientific Research Institute on Binder and
Materials,131-149.
Departemen
Pekerjaan Umum, 1971, Peraturan Beton
Bertulang
Indonesia, Cetakan ke-7,
Bagian 2 Bab
2, Bandung
Ekaputri,
J. J.,
& Triwulan, 2013, Sodium sebagai Aktivator
Fly
Ash, Trass dan Lumpur Sidoarjo dalam Beton Geopolimer, Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil, vol.20,
1–
10.
Hardjito, Djwantoro, 2002, Geopolimer Beton Tanpa Semen Yang Ramah Lingkungan,
dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0210/21/iptek/beto45.htm
Hardjito, D., & Rangan, B. V., 2005, Development and Properties of Low-Calcium
Fly Ash- Based Geopolymer Concrete. Research Report
GC,
94.
Daftar Pertanyaan Dan Jawaban Pada Saat
Presentasi
1.
Menurut pengujian dari teman-teman, kadar
lumpur yang layak digunakan harus 3% tapi mengapa menurut SNI harus <5% baru
dikatakan layak? (Adam Blegur)
2.
Bagaimana metode pengambilan sample dalam
hal ini pasir yang sementara di uji oleh teman-teman? (Yosep Masui)
3.
Dalam proses pengambilan sample, kendala
apa yang ditemukan di lapangan oleh teman-teman? (Helmy Maure)
4.
Apa selama ini ada keluhan dari pengguna
pasir takari? (Yohanis Djurumana)
1.
Dalam melakukan praktek pengujian, kita
akan menguji suatu bahan bangunan agar mengetahui mutu atau kualitas dari bahan
tersebut sehingga dapat dikatakan layak atau tidak. Dalam proses pengujian,
yang terutama kita harus berpatokan pada ASTM ataupun SNI karna dalam kedua
standar ini sudah merupakan standar yang sah. Apabila saudara komplen bahwa
dalam SNI dikatakan bahwa kadar lumpur dalam pasir harus 5% baru layak
digunakan, kami mengatakan bahwa ya, itu benar, akan tetapi kami melakukan
praktek pengujian kadar lumpur agregat halus dalam hal ini pasir takari
berdasarkan ASTM C-33 2003 dimana kadar lumpurnya harus 3%. Dari kelompok kami,
lebih bagus lagi apabila ada ASTM atau SNI yang mengatur bahwa kadar lumpur dari
pasir harus 0%, itu kan lebih bagus.
2.
Metode pengambilan sample dalam hal ini
pasir takari, kami mengambilnya secara acak. Dilapangan ada tumpukan-tumpukan
pasir yang telah dikumpulkan oleh penambang pasir. Kami mengambil sample secara
acak dari beberapa tumpukan pasir tersebut. Dalam hal ini pada setumpuk pasir
yang telah ditentukan, kami menggali sedalam 40 cm - 50 cm untuk mengambil
sample secukupnya. Kami mengambil sample sebanyak 5 titik, itupun secara acak.
Wadah yang kami gunakan untuk mengambil sample adalah karung bekas (10 kg).
3.
Dalam proses pengambilan sample pasir
takari, kendala yang kami temukan adalah lokasi yang ditempuh cukup jauh dan
proses pendekatan dengan masyarakat penambang pasir. Lokasi yang kami tempuh ±
61 km, dengan waktu tempuh ±1 jam (tergantung kecepatan pengendara). Proses
pendekatan dengan masyarakat penambang pasir yang kami pakai adalah dengan
lobi, karna pada umumnya mayoritas penambang pasir takari adalah masyarakat
Timor Tengah Selatan (TTS). Yang menguntungkan bagi kami, ada teman dalam kelompok
kami yang berasal dari TTS, jadi proses lobi yang dilakukan olehnya berjalan
lancar, dalam hal ini menggunakan bahasa dawan.
4.
Sejauh ini belum ditemukan keluhan dari
pengguna pasir takari. Dan yang sebenarnya kami hanya melakukan pengujian kadar
lumpur pada pasir takari, bukan melakukan wawancara dengan pengguna atau
konsumen pasir takari. Namun menurut kelompok kami, setelah melakukan pengujian
kadar lumpur, kualitasnya terbukti bagus sehingga pasir takari layak untuk
digunakan sebagai bahan konstruksi dalam suatu proyek.
Komentar
Posting Komentar